Sarjana, Lalu Jadi Apa?

Burung murai burung tekukur
Terbang rendah di atas sawah
Kalau kita pandai bersyukur
Insyaallah hidup kita akan berkah
Di era media sosial yang semakin menggemparkan jagat maya, kadang tanpa disadari kita membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Timeline yang penuh pencapaian, flexing harta yang bermodal hutang dan bahagia dengan versi algoritma media sosial. Tanpa sadar, semakin dicapai, justru lebih merasa tertinggal. Pada titik inilah, bersyukur sering menjadi klise, seolah hanya sebuah pelarian ketika menghadapi kondisi yang tidak sesuai harapan.
Ngomong-ngomong tentang bersyukur, saya mengajak kita semua, khususnya mahasiswa untuk tiada henti bersyukur atas pencapaian studi yang diraih. Sebagai sarjana, sudah pasti tau dan mengerti apa step yang akan dilakukan. Paling penting lagi, bagaimana saudara-saudara survive, sehingga survival itulah yang saya kira menjadi pembeda antara manusia yang berilmu dan yang tidak berilmu. Sedangkan, ciri-ciri manusia yang berilmu adalah memiliki sikap yang senantiasa optimistis.
Bagi sebagian orang, mungkin sarjana tidak penting, karena banyak lulusan sarjana yang menganggur. Akan tetapi, saya yakin, kuliah bukan cuman soal datang, duduk, lalu pulang, namun terdapat tanggung jawab dan proses yang harus ditempuh. Kalau tentang pekerjaan, saya rasa saudara sekalian pasti mempunyai pekerjaan. Jangankan manusia yang dianugerahi akal dan kemampuan, binatang saja disediakan rezekinya oleh Allah SWT. Di dalam Al-Quran disebutkan
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا
“Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah,” (Q.S. Hud ayat 6).
Lulus kuliah tidak selalu berakhir di pekerjaan yang sesuai dengan jurusan. Nyatanya, penelitian menunjukkan lebih dari 60% para profesional bekerja di bidang yang tidak linear dengan latar belakang, bahkan akademiknya. Dengan adanya realitas ini, kalimat yang dikatakan orang awam “Kok kerjanya nggak sesuai jurusan?”, masih sering kita dengar. Seolah hidup selalu berjalan lurus tanpa belokan layaknya tiang bendera. Sebenarnya, paling penting itu, kita mempunyai semangat setinggi apa dan ketekunan sekuat apa.
Padahal, nyatanya dunia kerja tidak bergerak seideal kurikulum. Banyak peluang kerja yang lebih mengedepankan soft skill bukan hard skill. Dengan soft skill itulah yang akan menentukan kita berada dimana dan akan kemana. Oleh karena itu, penentu masa depan kita adalah mindset dan mental yang menjadi pembeda antara berilmu dan tidak berilmu.
Sikap optimis di tengah ketidaklinearan ini bukan berarti menutup mata atau lari dari tantangan. Rasa ragu, minder bahkan takut dianggap salah jalan hinggap di benak pikiran. Akan tetapi, justru disitulah mindset dan mental kita diuji. Dengan demikian, kita yakin bahwa proses belajar tidak berkutat dengan bangku kelas dan kurikulum saja. Maka dari itu, tertanam dalam benak ini bahwa bekerja di luar jurusan bukan suatu kegagalan, melainkan bentuk realitas menuju versi yang lebih berkembang.
Akhirnya, hidup bukan suatu tuntutan untuk tetap berada di jalur yang sempurna, namun suatu sistem yang terus bergerak. Mungkin jurusan bukan suatu penentu dan keberhasilan datangnya sering terlambat. Akan tetapi, setiap langkah yang jujur dan gigih tetap bernilai.
Optimis bukan tentang yakin semuanya mudah, melainkan sikap berani percaya dan bekerja keras bahwa kita akan menemukan ruang untuk suatu jalan menuju versi yang lebih kuat. Jadi, teruslah bergerak, ambil peluang, belajar dari kegagalan dan selalu bersyukur. Sebab realitas hidup bukan soal siapa yang sudah sampai lebih dulu, melainkan siapa yang selalu istiqomah.

