Kurma dan Belimbing

Pernah nggak sih, kita berhenti sejenak lalu berpikir, terkadang hal kecil bisa memberikan efek besar di dalam hidup kita? Bahkan, kadang kita menyadari maknanya ketika semua sudah tumbuh, mengakar dan memberikan pengaruh. Seperti perumpamaan Allah di dalam surat Ibrahim ayat 24 yang berbunyi:
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ
Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah ṭayyibah? (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit.
Sampai titik ini, kita mengerti bahwa kalimat thayyibah bukan hanya sekedar kalimat indah. Akan tetapi, kalimat yang memiliki makna dan arah yang jelas. Biasanya, disebut juga jalan yang lurus. Apakah jalan tersebut? Apakah berupa jalan tol? Atau berupa jalur air atau udara?
Kita boleh menjamak qashar, tapi harus ada ketentuannya. Tapi nggak boleh ashar sama maghrib, kalau ada namanya jamak ngawur. Jamak qashar ini boleh karen ada rukhsoh, kalau nggak ada rukhsoh, mencari-cari namanya rusuh. Karena itu, tidak ada salahnya kalau kita mengqoshor sebagian dari sholat. Karena itu, kembali lagi pada bagaimana Allah memberikan kepada kita peringatan tentang kalimat toyyibah.
Berdasarkan pandangan Ibnu Katsir, kalimat thayyibah dimaknai sebagai pohon kurma. Kenapa pohon kurma? Karena Ibnu Katsir tinggalnya di Arab yang menjadikan cermin dari syajaratin thayyibah. Kemudian, semua ahli tafsir sepakat kalau kalimatun thayyibah sebagai kalimat tauhid atau kalimat yang menegaskan tentang kalimat laa ilaaha illallah muhammadur rosululllah atau tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Itulah kalimat thayyibah.
Biasanya, saudara-saudara kita sebelum membaca tahlil membaca kalimat laa ilaaha illallah yang disebut sebagai kalimat thayyibah, Afdholu dzikri fa’lam annahu laa ilaaha illallah. Kemudian, ada yang membaca seratus kali atau seribu kali tergantung durasi dan niat pembaca masing-masing.
Kalimat indah itu diibaratkan kasyajaratin thayyibah yang artinya seperti pohon yang indah. Jika menurut Ibnu Katsir, kasyajaratin thayyibah sebagai pohon kurma. Akan tetapi, menurut saya, dijelaskan pohon yang indah sebagai pohon yang tsabit dan memiliki akar yang kokoh. Maka dari itu, tsabit artinya tidak bergerak dan tidak bergoyang.
Dulu ketika belajar nahwu, ada sebutan tsubutun nun yang artinya nun nya nggak kemana-mana. Kemudian, pada saat belajar balaghah, yang pertama saya hafal, salah satunya anti man awwalu tasbutu fii qolbi, idza nadhorti tarafrafa qolbi, artinya kamulah orang yang pertama diam dihatiku, setiap melihatmu, hatiku berguncang-guncang. Apakah hanya itu yang saya hafal? Kalimat lainnya saya hafal ana uhibbu ilaik begitu. Itulah cara merayu dalam bahasa arab. Bagi yang tidak mengerti dikira ayat Al-Qur’an, lalu dijawab dan diakhiri shodaqollahuladziim. Padahal rayuan gombal.
Pada konteks tersebut, pohon yang dimaksud akarnya tidak terguncang. Mungkin, kalau dalam ilmu biologi disebut akar tunggang dan kokoh, meskipun banjir tidak terbawa arus. Dengan garis besar, kecuali akar yang sudah ditebang, beda lagi.
Ashluha tsabit, dimaknai pohon yang berakar tunggang. Kemudian, wafar’uha fis samak, cabang dan rantingnya menjulang ke langit. Akan tetapi tidak berhenti disitu, dalam sambungan ayatnya disebutkan tu’ti ukulaha kulla hiinin biidzni min robbiha, pohon itu memberikan buahnya kapan saja. Sebagian menafsirkan hanya setiap musim, namun saya tidak setuju dengan terjemahan tersebut. Sebab, jika dimaknai kulla hiinin setiap musim, berarti orang yang berbuat baik itu musiman. Saya memaknai hiinin dengan seketika. Oleh karena itu, tu’ti ukulaha kulla hiinin artinya pohon itu berbuahnya tidak musiman, tapi terus, kapan saja buahnya ada. Mengapa demikian? Karena semua atas izin Allah SWT.
Mengapa Ibnu Katsir mengaitkan syajaratin thayyibah dengan pohon kurma? Karena beliau tinggal di Arab dan buah kurma itu ada terus. Bayangkan saja jika tidak ada, sudah pasti jamaah umroh tidak bisa membeli oleh-oleh. Walaupun, belum tentu belinya di Arab. Bisa jadi belinya di tanah Abang.
Dalam konteks Indonesia, menurut saya syajaratin thayyibah itu belimbing. Dengan demikian, wali songo ketika menciptakan lagu lir-ilir menyebutkan cah angon, cah angon, penekno blimbing kui lunyulu. Menapa wali songo menyebutnya buah belimbing? karena mereka tidak ada di Arab. Buah belimbing tidak mengenal musim, akarnya kokoh mengguncang, daun cabangnya menjulang ke langit dan buahnya selalu ada. Makanya, orang Inggris menyebut belimbing dengan starfruit yang artinya buah berbentuk seperti bintang atau buah yang terus menerangi seperti bintang.
Adalagi, nangka namanya jackfruit, kalau ada hadiahnya namanya jackpot. Kalau yang main film namanya Jackie Chan. Dalam konteks teologi, syajaratin thayyibah dimaknai dengan akar yang kokoh, itulah tauhid yang murni. Dengan akar yang kokoh tersebut, kita harus menjadi manusia yang punya visi, pandangan yang kuat dan kokoh, karena kita selalu terikat kepada Allah. Oleh karena itu, aqidah adalah sebuah ikatan yang kokoh dan kuat, sehingga manusia menjadi optimis.
Terakhir, cabang yang menjulang itu ibaratkan amal shalih. Jika seseorang memiliki amal shalih, maka senantiasa dia memiliki manfaat yang besar. Walaupun, menurut saya amal sholih saja tidak cukup. Lebih bagus lagi, kalau kita menjadi orang yang shalih dan muslih, sehingga kita sendiri baik dan mengajak manusia berbuat baik.
Pada ujungnya, semua kembali kepada diri kita sendiri. Apakah amal kita sudah cukup berdampak? Apakah iman kita sudah kuat? Jadi shalih itu baik, namun muslih itu next level.

