Gaya HidupHumorIdeKhazanah

Hadir, Bukan Sekedar Ada

Berjalan di tengah hiruk-pikuk zaman yang semakin tak tentu arah. Absurd, kalau kata anak sekarang. Terkadang, manusia lupa untuk menjadi manusia yang sesungguhnya. Langkahnya hanya sibuk mencari jabatan, harta dan pengakuan, demi sekedar bahagia. 

Padahal, kunci sukses dan bahagia adalah sejauh mana kehadiran kita memberikan manfaat  bagi sesama umat manusia. Ketika kehadiran kita bermanfaat, tidak hanya kita sendiri yang merasakan, tapi orang lain juga akan menerima manfaat dari kebaikan-kebaikan kita. Seperti hadits yang sudah sering didengar,  mungkin sudah banyak yang hafal. Rasulullah SAW bersabda: 

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lainnya.” 

Kalau kita kaitkan dengan konteks teori industri maupun teori yang berkaitan dengan kemajuan pada umumnya, suatu institusi atau layanan akan terus berkembang jika kehadirannya memenuhi harapan masyarakat, kira-kira begitu. Oleh sebab itu, kemampuan kita untuk memenuhi harapan adalah kunci terus bertahan. Bahkan, bisa terus maju. Dalam kaitan ini, ada suatu hal yang saya kira sangat penting untuk menjadi bagian dari food for thought atau gagasan untuk kita kaji bersama. 

Dalam konteks memenuhi harapan, kita memang dituntut untuk merespon harapan tersebut (we respon the aspiration). Akan tetapi dalam konteks tertentu, agar kita bisa bertahan dan juga terus memimpin, diperlukan langkah lebih dari sekedar merespon. Kita dituntut untuk menginspirasi, menyalakan harapan kemudian membawa masyarakat ke arah visi-visi baru yang kita rancang dengan berbagai gagasan. 

 

Sikap seperti ini tidak datang dari yang  paling merasa benar,  tapi dari suatu keberanian. Bukan dengan paksaan, namun ajakan. Bukan hanya ceramah panjang, akan tetapi diiringi aksi nyata. Dari sinilah, terasa perubahan yang lebih bermakna dan bermanfaat. 

 

Jika kita mengikuti teori Stephen Covey, seorang penulis buku “The 7 Habits”  dan “The 8th Habit”. Arti  7 habits itu tujuh kebiasaan yang mampu memimpin dirinya. Sementara, eight habit memiliki arti delapan kebiasaan yang memberikan makna dan pengaruh. Dia menyebutkan, seven habit saja orang sudah leading. Apalagi eight habit. Akan tetapi, dalam buku tersebut, kunci bagi kita adalah menjadi leading yang memimpin dan mempunyai banyak pengaruh agar kita bisa menjadi figur yang menginspirasi dengan gagasan, pemikiran dan langkah nyata yang dapat menggerakkan masyarakat untuk lebih maju lagi. 

 

Dalam perjalanan hidup, inspirasi menjadi suatu energi penting. Bukan hanya sekedar kata indah, melainkan sikap berani beda dan konsisten demi nilai yang dianggap benar. Menginspirasi adalah sebuah langkah yang harus terus-menerus dilakukan. Bisa jadi, inspirasi itu adalah sesuatu yang awalnya ditolak karena merasa asing. 

 

Kalau kita kembali kepada sejarah Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah yang di dalamnya diajarkan ilmu agama. Kemudian, mendirikan madrasah yang di dalamnya diajarkan ilmu umum. Inovasi tersebut dianggap asing, karena tidak ada dan tidak lazim pada saat itu. Bahkan, mungkin tidak menjadi keinginan masyarakat. 

 

Metode pembelajaran yang beliau terapkan dengan berdialog, berdiskusi dan berdebat dengan muridnya dianggap sebagai khoriqul  ‘adah atau menyimpang dari tradisi. Tentu ada resikonya, beliau dianggap sebagai “Kyai Kafir”. Akan tetapi, itu menjadi bagian dari seorang pemimpin yang tidak sekedar memenuhi aspirasi. Tetapi, leading atau memimpin dan mengarahkan agar masyarakat berubah. 

Itulah menurut saya, kata kunci mengapa Muhammadiyah berani menyebutkan dalam identitasnya di Pasal 4 Anggaran Dasar, tidak hanya sebagai gerakan Islam dakwah amar ma’ruf nahi munkar, akan tetapi juga tajdid. Sering kali, kita berhenti pada dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar saja, namun tajdidnya tidak diikutkan dalam identitas. Padahal, tajdid inilah yang menjadi kunci Muhammadiyah maju dan terus memimpin, walaupun dengan segala resikonya. Oleh karena itu, ciri dari seorang pemimpin adalah berani untuk mengambil risiko. 

Perubahan besar selalu lahir dari keberanian untuk menempuh jalan yang tidak biasa. Sesuatu  yang dianggap menyimpang pada masanya, justru di kemudian hari menjadi sebuah pijakan kemajuan. Terkadang, kepemimpinan bukan hanya tentang keinginan mayoritas, namun keberanian yang menghadirkan inovasi baru untuk terus maju. 

Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah kita sudah didengar?, akan tetapi apakah kehadiran kita memberikan arah? Apakah kita hanya merespon tuntutan atau sudah melangkah maju dengan perubahan? 

Pada akhirnya, kepemimpinan bukan sekedar siapa yang paling keras bersuara, namun siapa yang paling konsisten memberikan arah. Bukan berapa banyak yang kita pimpin, tapi seberapa besar manfaat yang kita berikan. 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button