HumorIdeKhazanah

Terlatih Patah Hati

Konon, setiap manusia diberi takdir oleh Tuhan dengan tingkat kematangan yang berbeda. Ada yang nasibnya matang betul, empuk, lembut, enak dikunyah hidupnya. Ada juga yang nasibnya setengah matang, kalau digigit masih kayak sandal lily dan bikin kepala pening.

Ghazali masuk kategori kedua:
Takdirnya matang… tapi di pinggir saja. Tengahnya masih alot.

Mulai dari kecil sudah aneh. Ketika bayi lain menangis karena popok basah, Ghazali justru tertawa. Ketika anak lain buka mulut minta disuapi bubur, Ghazali malah ngelantur membaca sesuatu yang mirip doa tapi nadanya seperti orang mengigau. Begitulah hidupnya.

Ghazali pertama kali jatuh cinta pada seorang gadis bernama Salsabila. Waktu itu ia masih ustadz di Pondok, masih bau tinta kitab kuning dan kopi tanpa gula.

Ghazali mencintai Salsabila sebagaimana santri mencintai sandal jepitnya. Sederhana, apa adanya, dan berharap tidak hilang.

Tapi ternyata, cinta tidak sesederhana sandal jepit.

Suatu sore, Salsabila mengirim kabar lewat kertas kecil yang diselipkan di antara kitab Fathul Qarib:
“Maaf, Zal… aku dilamar orang. Besok akad.”

Ghazali membaca itu sambil tercekat seperti menelan kuah bakso yang belum siap ditelan.
Salsabila menikah. Ghazali patah. Patah itu membuatnya rajin tahajud sebulan penuh. Puasa bertahun tahun kecuali hari tasyrik.

Tuhan kalau mematahkan hati, sebenarnya sedang meluruskan arah.

Beberapa tahun kemudian, Ghazali bertemu Aisyah, gadis ceria yang wajahnya seperti pagi yang tidak pernah habis disapu embun. Aisyah pernah bilang:

Ketika seorang hamba kehilangan seni tersenyum, beratlah segala beban”.

Ghazali merasa ini jodoh. Pas. Cocok. Dalam hatinya muncul adzan subuh tiga kali.

Tapi ternyata, jodoh kadang menulis dirinya sendiri di tempat yang tidak kita kira.

Suatu hari, ketika Ghazali mengirim pesan: “Kapan kita meresmikan hubungan ini?”
Jawabannya datang singkat:

“Mas, Bapak Ibumu gk merestui kita, sedang aku dijodohkan keluarga dengan ustadz muda dari pesantren sebelah, hafiz Qur’an. Ahad depan akad.”

Ghazali mematung.

Dua kali ditinggal menikah.
Dua kali pula ia belajar bahwa “siapa cepat belum tentu dapat, siapa lambat bukan berarti terlewat, tapi siapa yang terlalu yakin kadang malah bablas.”

Dunia memang aneh, yang datang menenangkan, justru pergi menyakitkan.

Ghazali bersumpah, “Sudah, aku tidak akan jatuh cinta lagi kecuali kalau benar-benar yakin.”

Sumpah itu bertahan sekitar dua pekan.

Lalu ia bertemu Dzakiyah, gadis dengan senyum seperti tanda baca koma, membuat hati berhenti sebentar tetapi ingin lanjut lagi.

Dzakiyah bijak. Lembut. Tidak pernah menyepelekan hal-hal kecil. Bahkan saat Ghazali cerita tentang patah hatinya, Dzakiyah hanya tertawa sambil berkata:

“Mas, orang yang ditinggal menikah itu bukan gagal. Itu dipromosikan Tuhan. Dinaikkan levelnya. Disuruh belajar sabar.”

Ghazali meleleh seperti es lilin yang kepanasan di termos koperasi.

Hubungan mereka berjalan damai, matang, penuh doa dan wacana masa depan. Ghazali sampai berani membeli baju koko baru untuk lamaran.

Namun pada akhirnya, hidup kembali menulis leluconnya.

Seminggu sebelum hari lamaran, Dzakiyah mengirim voice note dengan suara gemetar:

“Mas… maaf… aku… aku dilamar duluan sama orang yang sudah disetujui keluarga.”

Dan untuk ketiga kalinya, Ghazali melihat seseorang yang ia cintai tersenyum di pelaminan orang lain.

Tetangga sampai menyebutnya:

“Ghazali iku bukan wong gagal. Dia itu wis kayak ‘kolektor pengalaman ditinggal nikah’. Kelasnya internasional.”

Ghazali cuma tertawa lirih.
Kadang sakit itu saking pedesnya sampai tidak terasa lagi.

Di malam sunyi, setelah orang kampung tidur, Ghazali duduk di serambi mushala, memeluk angin dan kenangan yang menempel di dinding dada.

Lalu ia sadar sesuatu:

Bahwa cinta yang pergi tidak pernah benar-benar hilang. Hanya sedang mencari pintu yang tepat untuk kembali, dalam bentuk yang lebih baik.

Bahwa patah hati bukan musibah.
Ia latihan.
Ibarat santri, naik kelas mesti lulus ujian dulu.

Tuhan mengajari Ghazali, lewat tiga perempuan yang menikah bukan dengannya, jodoh bukan tentang seberapa banyak kita mengejar, tetapi seberapa tepat kita menunggu.

Manusia yang terlalu ingin memiliki, justru dilatih untuk melepaskan.

Melepas bukan melemahkan, tapi memerdekakan diri dari harapan yang menggembung seperti balon.

Sejak hari itu, setiap ada orang patah hati, orang kampung selalu memberi nasihat:

“Belajarlah pada Ghazali. Dia sudah tiga kali ditinggal nikah, tapi hatinya tetap bisa ngakak kemekel.”

Ghazali, guru patah hati sejati itu, selalu berkata dengan santai:

“Lha wong jodoh kok diburu. Jodoh itu seperti jemuran, kalau waktunya kering ya kering, kalau belum ya tetep basah meski kamu tungguin dari shubuh.”

Orang-orang tertawa.
Mereka merasakan hikmah yang menyelinap lembut :

Hidup adalah komedi yang disusun Tuhan dengan kebijaksanaan yang halus.
Dan kita semua tinggal belajar menertawakan rencana yang tidak sesuai, sambil tetap percaya bahwa setiap kehilangan adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa Ia sedang menyiapkan sesuatu yang lebih pantas.

Cinta bukan soal “memiliki”, tapi soal bagaimana kita tidak kehilangan diri sendiri.

Hati manusia adalah sekolah paling rumit di dunia:
ada ujian, ada remedial, ada tugas mendadak, ada nilai harian yang terkadang tidak diumumkan.

Selama kita mau belajar, kita tidak akan pernah benar-benar gagal.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button