Gaya HidupHumorIdeKhazanah

Sebagai Manusia Boleh Lelah, Tapi Tidak dengan Amanah

Di tengah rutinitas pengabdian yang panjang dan amanah yang tidak ringan, lelah bukan menjadi alasan untuk berhenti, melainkan pengingat amanah yang harus dijaga. Dari sinilah, lahir prinsip saya “Kalau Abdul Mu’ti secara pribadi boleh lelah, tapi Abdul Mu’ti sebagai menteri tidak boleh lelah”. Sebab, amanah bukan hanya sekedar jabatan, namun juga tanggung jawab kepada bangsa dan generasi masa depan. 

Sesungguhnya, kita mendapatkan mandat dari Undang-Undang Pendidikan Nasional Pasal 5 yang menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu.  Atas dasar ini, kami di kementerian menetapkan visi program-program pendidikan dasar dan menengah sebagai pendidikan yang bermutu bagi semua. 

Visi tersebut mengandung dua makna penting. Pertama, pelayanan pendidikan untuk  semua (education for all). Dimana, tidak ada alasan anak-anak Indonesia untuk tidak mendapatkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi, tempat tinggal, fisik, agama atau sebab-sebab lain yang menghalangi mereka agar mendapatkan layanan pendidikan. Maka, kami berusaha memenuhi hak seluruh warga negara, bukan hanya hak sosial mereka, namun juga hak sipil untuk mendapatkan pendidikan. 

Kedua, kita berusaha agar layanan pendidikan yang diberikan bermutu atau berkualitas. Ini memang sesuatu yang sangat ambisius, tetapi itulah yang harus kita tunaikan bersama sebagai  bagian dari tugas amanat konstitusi tersebut.

Dibalik itu, terkadang pernyataan pahit kita temukan di lingkungan masyarakat. Dimana ketika ada seorang anak yang berada di lingkungan pendidikan, namun tidak memanfaatkan privilege dengan baik. Sedangkan, di ujung timur Indonesia, banyak anak yang rela menempuh jarak jauh dan menembus keterbatasan demi menimba ilmu. Sungguh, miris sekali kedua realitas tersebut. 

Jika kita melihat data nasional, memang kita mendapatkan realitas dimana seluruh anak Indonesia belum memperoleh hak pendidikan secara merata. Tentu faktornya sangat banyak, sebagian karena faktor ekonomi, domisili atau tempat tinggal, keadaan fisik dan alasan cultural yang masih menjadi salah satu masalah kita.  

Kemudian, kalau kita melihat dari sisi mutu pendidikan nasional, maka kita masih melihat ada kesenjangan mutu. Terutama kesenjangan antar kawasan. Saya sempat dua belas tahun di badan akreditasi dan memiliki data bahwa secara umum, pendidikan nasional kita yang berkualitas masih berada di Pulau Jawa. Sedangkan, daerah luar jawa masih tertinggal. Tentu saja, ketimpangan ini tidak boleh dibiarkan dan dianggap biasa.

“Pendidikan bermutu untuk semua.” Satu kalimat ini menjadi visi kami untuk menjawab berbagai problem pendidikan di Indonesia. Tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk karakter bangsa dan peradaban bangsa semakin mendapatkan tantangan yang tidak sederhana. Sekarang ini, children delinquency atau kenakalan anak bukan masalah yang sederhana dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Hal ini juga menjadi permasalahan yang berkaitan dengan dunia modern yang mempunyai pengaruh sangat kuat. Oleh karena itu, persoalan karakter ini harus menjadi agenda besar kita untuk membangun generasi yang kuat dan memiliki kepribadian yang utama.

Kemudian, tantangan berikutnya terkait capaian akademik. Skor programme for international student assessment (PISA) kita, baik literasi maupun numerasi memang rata-ratanya rendah. Tapi, kita tidak boleh terpaku dengan persoalan ini. Kalau kata anak muda sekarang, “So what gitu loh.” Skor PISA kita memang rendah, tapi kita harus tetap melaksanakan tugas dan memikirkan langkah selanjutnya (what next and what we can be done). 

Kembali lagi pada civility kita. Kalau kita baca survey microsoft, indeks digital utility kita tergolong paling rendah di negara ASEAN dengan keadaban digital yang sangat memprihatinkan. Saya kadang iseng, kalau ada waktu agak longgar, saya baca berita di website terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan respon masyarakat. Kemudian, komentar netizen terhadap pemberitaan itu  membuat saya mengelus dada. Dimana sumpah serapah dan kata-kata yang tidak mencerminkan kesopanan sudah menjadi masalah yang serius. Sekarang ini, menjadi pejabat itu, jangankan salah, benar pun disalahkan. Ini bukan curhat, melainkan potret realitas yang patut kita renungkan bersama. 

Sejatinya, pendidikan adalah kerja panjang yang menuntut kesabaran, ketekunan dan keikhlasan. Dengan semangat pendidikan bermutu untuk semua, kita diajak  untuk terus berjalan, meski pelan dan lelah. Sebab, dibalik anak yang berangkat sekolah, ada harapan orang tua dan masa  depan yang menanti. Selama harapan dan semangat tersebut masih ada, lelah bukanlah alasan untuk berhenti. 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button