Sandal Kanan dan Kiri

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh perbedaan, kita lupa bahwa hidup tidak berjalan dengan sendirinya. Beda pendapat sedikit, panjang urusan. Beda pilihan, bahkan cara berdoa, langsung diberi tanda. Padahal, sebenarnya fakta yang ada kita tidak bisa luput dari perbedaan itu.
Masalahnya bukan pada perbedaan, melainkan cara kita menyikapinya. Kalau ego muncul, empati menyusut. Kadang kita lupa hidup bukan siapa yang paling dominan, tapi siapa yang mampu memberikan ruang.
Kekuatan kita sebagai umat dan bangsa berada pada sebuah persatuan. Sebuah julukan bersatu tidak berarti seragam. Dalam persatuan itu, ada ruang dimana kita memang harus bertasamuh dan bertoleransi. Pasalnya, ada perbedaan furu’iyyah yang tidak bisa disamakan. Paling penting kita saling memahami dan menghormati. Bahkan lebih dari itu, kita harus mengakomodasi dan saling bekerja sama.
Kita semua tidak bisa hidup sendiri dan tidak boleh merasa besar sendiri. Di beberapa tempat saya mengusulkan mengusulkan kalau ada kyai NU dan ormas lain yang dirawat di rumah sakit digratiskan semuanya. Akan tetapi, semua itu sebagian dari sami’na wa atho’na dan sebagian lain sami’na wa asoyna. Hal ini kami instruksikan di bawah, karena itu bagian dari menghormati orang-orang sholeh dan para ulama. Walaupun, saya tau pak Kyai nanti yang mengkritik saya juga ada.
Antara lain kritik yang saya duga itu berbunyi sebagai begini “yang ormas lain digratiskan yang warga sendiri suruh bayar”. Sudah saya prediksi itu kritiknya. Tapi, dalam rangka ukhuwah dan wihdatul ummah saya kira kita memang harus memberikan ruang beragama untuk mereka yang berbeda.
Kenyataannya, persatuan tidak cukup menjadi jargon atau slogan yang diulang-ulang di forum resmi. Tapi, persatuan perlu diaplikasikan dalam sehari-hari. Dengan demikian, sejarah dan realitas hari ini menunjukkan setiap organisasi, komunitas dan elemen masyarakat mempunyai peran yang saling melengkapi.
Saya sering mengatakan di berbagai forum bahwa Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) seperti dua sayap burung garuda. Garuda itu akan terbang tinggi kalau kedua sayapnya mengepak seiring dan seirama. Kalau hanya satu sayap saja, jangankan terbang tinggi, garuda tidak akan bisa terbang. Inilah menurut saya satu metafora, satu tasbih, satu tamsil yang menggambarkan betapa kita sebagai bangsa Indonesia ini harus saling bersinergi antara satu dengan yang lainnya.Tidak hanya Muhammadiyah dan NU, tapi semua kekuatan bangsa Indonesia.
Kemudian, saya sering mengutip pernyataan Kyai Haji Hasyim Muzadi dan saya juga banyak belajar dari beliau. Bahkan, dalam banyak hal saya mendapatkan ilmu-ilmu dari beliau yang mungkin diluar dugaan akan diberikan kepada kader-kader NU.
Saya merasakan pak Hasyim itu sangat dekat dengan saya. Salah satu nasehat beliau itu begini, “Mu’ti, Muhammadiyah Nu itu seperti sandal.” Secara umum begitu, ini memang metafora yang sangat cocok untuk masyarakat.
Sesuatu yang namanya sandal kanan ya harus di kanan. Sandal kiri ya harus di kiri. Kalau sandal kanan ditaruh di kiri dan sandal kiri ditaruh di kanan, kira-kira apa yang terjadi? Sepertinya yang bersangkutan baru saja dirawat di rumah sakit tertentu. Karena itu, maka biarlah NU menjadi NU dan Muhammadiyah menjadi Muhammadiyah. Organisasi Islam dan organisasi keagamaan lain menjadi sebagaimana organisasinya. Akan tetapi, kalau sandal yang kanan dan kiri tidak tertukar membuat kita bisa berjalan dengan baik dan menuju tujuan yang mulia.

