Ikut Arus atau Punya Arah?

Di tengah koneksi dunia yang semakin cepat, tanpa disadari kita hidup pada zaman yang tidak mengenal batasan. Informasi datang tanpa jeda, tanpa ditelusuri dan dicermati, ternyata cuman Hoaks. Kadang bikin hidup, kadang bikin bingung. Sebenarnya, kemana arah dunia ini? Apakah selama ini kita hanya mengikuti arus atau berpegang teguh pada pendirian?
Terdapat hal penting yang perlu kita bahas sebagai tantangan dunia masa depan, dimana pesantren bisa memberikan jawaban. Kishore Mahbubani, seorang penulis buku “The Great Convergence” dari Singapura menyatakan dalam karya tersebut, bahwa selain ada klise of civilization yang ditulis oleh hunting tertentu, Mahbubani menyebut ada realitas baru yang dia sebut dengan great convergence.
Berbagai convergence yang terjadi merupakan buah dari interaksi interkultural dan dunia yang semakin terbuka serta interreligius yang intensif. Jika semakin merajalela, maka akan menimbulkan sisi negatif dari perkembangan dunia global. Walaupun, di bagian awal, Mahbubani menyebutkan adanya klise. Akan tetapi, yang banyak terjadi adalah convergence.
Adanya keterbukaan dunia yang tidak ada batasnya ini, memberikan efek kepada anak muda. Salah satunya adalah fomo. Di tengah kondisi yang seperti ini, apakah pernah berpikir tren ini akan memberikan manfaat atau hanya sekedar mengikuti arus saja? Tentu, kenyataan itu bukan hanya akibat keterbukaaan dunia, akan tetapi juga manusia yang semakin kehilangan arah.
Alih-alih menutup diri dunia, justru yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menyaring. Convergence seharusnya melahirkan kolaborasi bukan konflik serta memperkaya sudut pandang bukan menghapus jati diri. Dunia boleh cepat berubah, budaya boleh saling bertemu, tapi manusia perlu pegangan dan pijakan agar tidak hanyut. Oleh karena itu, disinilah salah satu peran pesantren diperlukan.
Dalam konteks Indonesia, Bapak Kuntowijoyo pernah menulis buku atau artikel yang dihimpun menjadi buku “Muslim Tanpa Masjid”. Di bagian-bagian itu, disebutkan adanya convergence Islam di Indonesia. Ada convergence keagamaan, dimana batas-batas tradisionalis dengan modernis itu hampir tidak ada. Hal yang sama juga ditulis oleh Fathur Rohman dalam Islam yang modern. Kenapa itu semua bisa terjadi? Karena memang anak-anak dari tradisional dan modern belajar di lembaga pendidikan yang sama.
Belajar di IAIN atau UIN, mereka membaca dari literatur dan guru yang sama, sehingga convergenci keagamaan itu terjadi. Dengan demikian, di antara varian Muhammadiyah ada namanya munu. Munu itu Muhammadiyah Nahdlatul Ulama (NU). Jadi kata pak Munir Mulkhan, ada empat varian Muhammadiyah. Pertama Muhammadiyah Ikhlas, yaitu Muhammadiyah yang galak-galak, mereka masih mempersoalkan tahlil dan lain sebagainya. Muhammadiyah Ikhlas disingkat menjadi Mukhlas. Kedua, ada namanya Muhammadiyah Ahmad Dahlan. Varian ini bersifat rasional, terbuka dan bisa bergaul dengan siapa saja. Namanya Muda (Muhammadiyah Ahmad Dahlan). Ketiga, ada Munu (Muhammadiyah NU). Dulunya mereka NU, tapi masuk Muhammadiyah. Sebagian karena kuliah di Muhammadiyah dan mungkin juga mendapatkan beasiswa dari Muhammadiyah. Kemudian, istiqomah bekerja di Muhammadiyah, namun tetap beramal ala Nahdlatul Ulama. Jadinya Munu dan mungkin contohnya seorang Abdul Mu’ti ini.
Saya sering bercanda, kalau ada orang Muhammadiyah yang anti berjanji pasti tidak membaca Barzanji. Karena kalau di kitab Al-Barzanji, Muhammadiyah ada tapi tidak dengan NU. Coba baca bacaan yang ketiga dari kitab Al-Barzanji Nasr, yang pertama Al-Jannatu wa naimuha sa’dun lima liman yusolli wa yubarik ‘alaih. Kemudian, yang kedua wafa’du ‘aqulu, yang ketiga wa lamma arodhallahu ta’ala ibroza haqiqotil muhammadiyyah. Jadi, di dalamnya tidak ada Nahdlatul Ulama. Mungkin, karena itu juga banyak NU yang masuk Muhammadiyah.
Akhirnya, hidup di dunia yang tanpa batas ini mengandung banyak pro dan kontra. Pertanyaan yang harus dipikirkan anak muda sekarang adalah apakah aku sudah memiliki pegangan untuk menghadapi arus dunia? Anak muda boleh terbuka, global, kritis dan melek dunia dengan batasan-batasan tertentu. Convergence itu nyata dan tidak bisa dihindari, namun kehilangan arah bukanlah sebuah pilihan. Oleh karena itu, disinilah peran pesantren dibutuhkan. Bukan untuk membatasi, namun untuk mengarahkan.

