Dunia Berubah, Islam Naik Level

Sebuah insight besar dapat datang dari momen sederhana. Pada saat ada waktu longgar dan agar sedikit mendapatkan honor dollar, saya menjadi seorang penerjemah. Suatu saat, seorang Intelektual muslim Inggris, Auksin Sardan membuat analisis bahwa Islam masa depan akan tumbuh dan menjadi peradaban besar dari tiga negara. Kemungkinan, Inggris atau Prancis, Indonesia dan Turki. Pernyataan itu membuat saya berhenti sejenak. Dalam analisis itu, Islam tidak diposisikan sebagai identitas pasif, melainkan kekuatan peradaban
Berbicara tentang Islam di Barat, banyak yang memandang dengan isu minoritas dan identitas. Padahal, justru tumbuh generasi baru dengan karakter yang unik, meskipun menjadi sebuah minoritas. Terdapat sebuah dinamika yang tumbuh, namun luput dari perhatian. Di tengah modernisasi yang tumbuh, lahirlah sebuah generasi yang memiliki daya juang dan identitas yang kuat. Mereka tidak kikuk, tidak gambang dan berdaya saing tinggi.
Pertama, Inggris dan Prancis memiliki jumlah umat Islam sangat banyak dan mereka adalah generasi kedua dan ketiga muslim yang memiliki semangat keislaman tinggi serta memiliki komitmen sebagai muslim yang kuat dan taat. Tak hanya itu, mereka juga menguasai ilmu-ilmu pengetahuan yang membuat mereka bisa menjadi pemimpin masa depan.
Walikota London, Inggris itu beragama Islam dan keturunan Pakistan. Mungkin, dia bisa menjadi perdana menteri Inggris. Kedua, menurut Sardar yaitu Turki. Sejarah mencetak Turki bisa menjadi pusat Islam karena dulu ada kerajaan yang bernama Turki Utsmani yang memiliki tingkat kejayaan tinggi. Selain meliputi beberapa negara dan wilayah di Timur Tengah, wilayah Turki juga hampir meliputi sepertiga Eropa. Oleh karena itu, Turki itu menarik karena berada di dua benua. Ibu Kotanya ada di Angkara wilayah Asia. Pusat Bisnisnya di Istanbul wilayah Eropa.
Istanbul itu dulu namanya Konstantinopel. Pada saat kerajaan Romawi menjadi pusat Kristen yang dinamakan Konstanti. Akan tetapi, lewat serangan satu malam melalui selat Fosforus, Konstantinopel dikalahkan oleh Turki. Kemudian, namanya diganti dengan Istanbul yang artinya kira-kira sama dengan istiqlal yang berarti kemerdekaan, kejayaan dan kehebatan.
Kalau ke Istanbul, jangan lupa ke museum di tanah Komplek Istana Topkapi. Disana terdapat jejak sejarah Islam yang luar biasa. Ada tongkat Nabi Musa, 4 pedang sahabat nabi, bekas telapak nabi, surban Nabi Yusuf dan berbagai peninggalan Islam lainnya. Kenapa Turki?
Selain memiliki sejarah yang kuat sebagai negara Muslim. Turki juga memiliki demokrasi dan ilmu pengetahuan serta teknologi yang sangat maju. Selain Istanbul, ada juga kota Jalaludin Rumi, seorang sufi yang terkenal yang memiliki tarian yang muter-muter. Kalau mau kesana bisa naik bis atau kereta.
Kalau membahas tentang siapa yang punya peluang paling besar untuk menjadi pusat peradaban Islam ke depan, pembahasannya jadi makin serius sekaligus dekat dengan kita. Bukan lagi soal di luar sana, tapi mulai menyentuh realitas sehari-hari. Di titik ini, Indonesia bukan hanya sebagai pelengkap. Justru muncul sebagai kandidat dengan modal nyata.
Kata Sardan, mungkin menjadi pusat Islam masa depan adalah Indonesia. Sardan menyampaikan dengan beberapa alasan. Pertama, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Masih soal jumlah penduduk, Indonesia itu negara muda. Dalam pengertian, sebagian besar penduduk Indonesia adalah mereka yang berusia muda antara 15-60 tahun. Saya juga masih muda, walaupun sudah beruban. Jumlah usia kelompok ini 72% dari jumlah penduduk Indonesia dan masih termasuk kelompok usia muda dan produktif.
Kedua, umat Islam Indonesia sangat taat menjalankan syariat agama. Ada penelitian dari Australia membandingkan ketaatan melaksanakan sholat masyarakat di empat negara muslim, yaitu Mesir, Indonesia, Pakistan, Uzbekistan atau Kazakhstan saya agak lupa. Dibandingkan ketaatan sholat dan berpuasa, ternyata yang paling taat itu masyarakat Indonesia.
Ketiga, masyarakat Indonesia memiliki budaya dan cara pendidikan Islam yang khas dan tidak dimiliki oleh negara lain. Tradisi itu adalah pesantren yang mengkaji kitab kuning, mendalami ilmu-ilmu agama, ilmu-ilmu dasar yang menjadi fondasi. Tidak hanya dengan ilmu agama, tapi juga pengembangan keilmuan yang lainnya.
Pesantren bukan cuma hanya kitab kuning atau tradisi lama. Akan tetapi, tempat di mana nilai, nalar, dan kepekaan sosial dibentuk. Dari sana lahir orang-orang yang bukan hanya paham agama, tapi juga siap hidup di dunia nyata yang serba cepat. Sekarang, pertanyaannya apakah kita cuma bangga jadi penonton, atau ikut terlibat merawat dan menggerakkan potensi besar ini? Karena masa depan itu nggak datang sendiri, ia dibentuk oleh orang-orang yang bergerak hari ini.

